57% Anak Indonesia Kurang Bergerak, Apa yang Sebenarnya Terjadi?


Oleh: Dr. Muhammad Iqbal, M.Pd., AIFO

Pernahkah kita memperhatikan keseharian anak-anak sekarang?

Pagi duduk di kendaraan. Di sekolah lebih banyak duduk di kelas. Pulang memegang ponsel. Malam kembali menatap layar.

Anak-anak mungkin terlihat sibuk. Tetapi apakah mereka cukup bergerak? faktanya..

Sebuah artikel ilmiah yang diterbitkan pada 2023 dalam jurnal Children memperkirakan bahwa 57% anak di Indonesia belum cukup melakukan aktivitas fisik. Artikel tersebut juga menyoroti perilaku sedentari dan waktu layar sebagai persoalan penting yang dapat mengurangi kesempatan anak untuk bergerak.

Temuan ini diperkuat oleh data nasional. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa 37,4% penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas masih kurang melakukan aktivitas fisik. Data resmi juga mencatat bahwa 62,6% berada dalam kategori cukup aktif.

Angka tersebut memberi pesan sederhana: kurang bergerak bukan lagi persoalan kecil. tetapi ini perlu dikhawatirkan.

Kurang bergerak bukan hanya berhubungan dengan kebugaran tubuh. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa perilaku sedentari dan kurangnya aktivitas fisik pada anak berkaitan dengan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, serta kesehatan mental yang kurang baik.

Karena itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan anak dan remaja usia 5–17 tahun melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat rata-rata setidaknya 60 menit per hari.

Masalahnya, satu jam bergerak semakin sulit tercapai ketika keseharian anak lebih banyak diisi dengan duduk, belajar, bermain gim, dan menatap layar. artinya......

Kita tidak bisa hanya menyuruh anak, “Ayo olahraga!”

Lingkungan juga harus memberi kesempatan kepada mereka untuk bergerak. Sekolah perlu menciptakan pembelajaran yang lebih aktif. Orang tua perlu memberi ruang dan waktu untuk bermain. Lingkungan tempat tinggal juga perlu menyediakan tempat yang aman bagi anak untuk berjalan, berlari, dan bermain.

Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga formal. Berjalan kaki, bersepeda, bermain bola, membantu pekerjaan rumah, atau bermain di luar juga membuat tubuh tetap aktif. balstory punya pandangan bahwa...

Anak Indonesia tidak kekurangan energi. Mereka mungkin semakin kekurangan kesempatan untuk bergerak.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya:

“Mengapa anak sekarang malas bergerak?”

Tetapi juga:

“Sudahkah rumah, sekolah, dan lingkungan memberi mereka cukup kesempatan untuk bergerak?”

Membangun generasi sehat tidak selalu harus dimulai dari program besar. Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana: kurangi waktu duduk, kelola waktu layar, dan beri anak lebih banyak kesempatan untuk bergerak.

Tentang Penulis

Dr. Muhammad Iqbal, M.Pd., AIFO adalah dosen Pendidikan Olahraga FKIP Universitas Syiah Kuala (USK). Aktif dalam bidang pendidikan olahraga, pengembangan olahraga, penelitian keolahragaan, serta penguatan tata kelola dan kebijakan olahraga di Indonesia.

Tinjauan Keilmuan

Artikel ini disusun berdasarkan kajian akademik, data nasional, serta referensi ilmiah yang relevan di bidang aktivitas fisik, pendidikan olahraga, dan kesehatan anak. Tujuannya adalah memberikan wawasan yang akurat, edukatif, dan mudah dipahami mengenai pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung anak untuk lebih aktif bergerak.

Sumber dan Referensi

  1. Hanifah, L., dkk. (2023). Sedentary Behavior and Lack of Physical Activity among Children in Indonesia. Children, 10(8), 1283. Ini adalah sumber utama untuk angka 57% anak Indonesia belum cukup aktif secara fisik.
  2. Kementerian Kesehatan RI – Survei Kesehatan Indonesia 2023. Data resmi menunjukkan 37,4% penduduk usia 10 tahun ke atas kurang melakukan aktivitas fisik.
  3. World Health Organization (WHO). Pedoman aktivitas fisik merekomendasikan anak dan remaja usia 5–17 tahun melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat rata-rata setidaknya 60 menit per hari.

Posting Komentar untuk "57% Anak Indonesia Kurang Bergerak, Apa yang Sebenarnya Terjadi?"