Pemuda yang Memilih Bertahan Saat Semua Ingin Pergi
Setelah ayahnya wafat, Arif menjadi tulang punggung keluarga. Ia menunda kuliah, bekerja apa saja yang halal—mulai dari mengantar galon, memperbaiki motor tetangga, hingga membantu di kebun orang lain. Penghasilannya tidak seberapa, tapi senyumnya jarang hilang. Baginya, lelah adalah bukti bahwa ia masih berjuang.
Setiap malam, saat pemuda lain larut dalam gawai dan hiburan, Arif membaca buku bekas yang ia pinjam dari perpustakaan desa. Ia percaya, pengetahuan adalah jalan keluar dari keterbatasan. Meski pelan, ia terus belajar—tentang usaha kecil, tentang kehidupan, tentang cara bangkit tanpa mengeluh.
Suatu hari, Arif memberanikan diri membuka bengkel motor kecil di depan rumah. Modalnya bukan uang besar, melainkan kepercayaan warga yang sudah mengenalnya sebagai pemuda jujur dan pekerja keras. Hari-hari awal tak mudah. Kadang seharian tak ada satu pun motor datang. Tapi Arif tetap membuka pintu, tetap menyapu lantai, tetap berharap.
Tahun demi tahun berlalu. Bengkel kecil itu kini tak pernah sepi. Arif mempekerjakan dua pemuda lain yang dulu juga nyaris menyerah pada keadaan. Ia bukan hanya membangun usaha, tapi juga menyalakan harapan.

Posting Komentar untuk " Pemuda yang Memilih Bertahan Saat Semua Ingin Pergi"
Posting Komentar